Untukmu, Ustadzah!

Untukmu, Ustadzah!

 

sukmaimers.com | oleh Sukma

 

Mulai tiga hari lalu, lelaki kecil itu mulai bertingkah aneh. Matanya sering menatap tajam. Ucapannya yang mantap serta senyumnya yang khas adalah buah rindu yang membuatku kian luluh mengamatinya dari bilik asrama putri.

Namun tingkah itu makin hari makin membuatku risih. Pasalnya, pagi itu, lelaki kecil itu datang kepadaku, menuruni anak tangga dengan langkah sedikit berlari, menyelempangkan sarungnya ke samping pundak, kemudian berhenti tepat di depanku.

Dengan cakapnya yang terbata-bata. Maklum, lelaki kecil ini baru dua bulan masuk asrama. Ia melemparkan senyum ke arahku dan mengeluarkan sebungkus kado.

“Aku sayang, Ustadzah. Ambillah, ini untuk Ustadzah!” Katanya patah-patah.

Aku kikuk bukan main. Belum ada seorang pun yang berani memperlakukanku seperti itu.

Meskipun seorang pria yang cukup umur, laksana Ustadz Bahri yang sempat tertarik denganku, juga dengan Ustadz Muin yang jatuh hati padaku tiga bulan silam.

Tapi semuanya tidak ada yang senekad bocah kecil ini. Ditambah pula sebungkus kado yang diberi.

Yang parahnya, santri-santri lain melihat aksi ini seperti melihat tragedi tabrak lari dua hari lalu di depan asrama mereka. Terkejut. Bahkan ada yang terus mematung melihatku.

Aku segera berlalu. Sementara lelaki kecil itu terus saja melengkungkan senyumnya seraya tidak beranjak sedikit pun dari semula tempat ia berdiri.

“Benar, anak itu membuatku tertegun!” Kataku dalam hati

Itu yang paling membikinku tak tentram jiwa. Seisi pesantren mencurigaiku dengan perihal macam-macam. Ustadzah genit-lah, kementelan-lah, sok cantik-lah, bahkan ada juga yang mesem-mesem setuju dengan pola tingkah anak lelaki itu.

Tapi, jujur saja, hatiku serasa bergetar saat anak lelaki itu memperlakukanku begitu aduhai. Tidaklah aku bisa mengerti mengapa ia seberani ini kepadaku.

Justru, di asrama putri banyak santriwati yang jauh lebih cantik dariku. Banyak pula ustadzah yang lebih berwibawa dari penampilanku. Tapi kenapa hanya aku yang dipandang spesial di matanya.

Aku benar-benar tak mengerti.

Yang ada dalam benakku sekarang; bagaimana agar aku bisa menghindar dari incaran bocah lelaki ini?

Betapa ia pernah juga mengirimiku sekuntum mawar di depan santri-santri perempuan, sebatang coklat juga sepotong roti tart yang manis.

Kutau memang ini sulit, meski Ustadz Abdi, kepala pesantren, sejak semester baru ini menempatkanku pada kelas-kelas putra tapi tetap saja itu bukan keputusan yang mudah untuk diubah.

Bocah lelaki ini tidak juga bosan melakukan hal yang sama. Walau wajahku kadang-kadang masam di depannya, senyum khasnya tak pernah sirna dilepaskan untukku. Kemudian riuh para santri akan membahana seketika

“Cie…Ustadzah ni.., dapat coklat lagi, ya. Cuit-cuit…!!”

Macam-macamlah tingkahnya. Yang pasti kesemua itu membuatku makin tak tentu tingkah. Kikuk. Panik. Juga malu.

Suasana kelas yang hening, tidak ada kemerecek suara-suara dan santri-santri yang taat adalah hal yang paling aku senangi disaat mengajar. Tapi Itu dulu. Kini malah suasana itu berubah haluan.

Selalu saja timbul bisik-bisik tidak jelas. Senyum-senyum yang sulit diterka. Bernada miris. Ejekan. Juga sindiran yang begitu setia hinggap padaku.

Lengkap sudah. Bocah lelaki itu tidak juga merubah sikapnya. Kalau kemarin sebungkus kado maka kini tiga buah permen yang dihekternya menjadi satu diberikan pula untukku.

“Ustadzah, jangan marah, ya! Saya hanya mau memberi permen ini untuk Ustadzah. Ambillah!” Katanya dengan wajah menunduk.

Aku hanya diam. Sambil berkacak pinggang, aku mulai menjelaskan perihal perilakunya itu yang kuanggap mesti segera diakhiri.

“Kamu tau apa yang terjadi kalau saya tidak menerima permenmu ini, hah?!” Suaraku tiba-tiba berang. Santri-santri yang lain mulai melihat ke arah kami. Herannya, si bocah lelaki itu melakukan aksinya pada waktu-waktu yang tidak tepat. Di saat kelas belajar tiba, pernah pula di depan barisan upacara, di kantin, di mesjid, juga sesekali di ruang guru ketika jam istirahat tiba.

Mendengar ucapku, bocah lelaki itu menggeleng dan tak berani menatap wajahku.

“Kamu akan saya laporkan ke bilik pengaman, dan biar saja kamu di hukum seharian di sana tanpa sarapan, juga tanpa makan siang, mengerti?!!”

“Jangan, Ustadzah! Saya tidak mau. Saya takut!” Wajahnya seketika memucat.

“Nah, kalau begitu, sekarang simpan permenmu dan kembali ke bangku. Kemudian catat pelajaran yang saya suruh!”

Bocah lelaki itu betul-betul aneh. Ada-ada saja tingkahnya. Semula aku memang terpukau. Gayanya yang polos, ucapannya yang masih cadel, lengkap dengan bahasa arabnya yang tak tentu makin membuat kepalaku terasa nyut-nyut. Makin geram aku dibuatnya.

Pernah aku menceritakan hal ini kepada Ustadzah Rani, tapi kemudian ia tidak menggubris malah katanya, “Sudah jangan diambil hati, namanya juga anak-anak!”

Memang semula iya. Boka, nama bocah lelaki itu, sepintas tidak ada salahnya. Akan hal itu, sikapnya sudah tidak wajar lagi. Aku kerap digunjingkan yang tidak-tidak dengan para santri lelaki. Apalagi guru-guru yang juga mulai mencurigaiku tentang hal ini.

Terutama Ustadz Muin dan Ustadz Bahri. Aku dikira ada main dengan santri. Ada kesan tak sedap soal Boka dan soalku.

Setelah kejadian itu, Boka mulai jarang melancarkan aksinya lagi. Meski sesekali kelas tampak riuh ketika aku masuk ke dalam kelas mereka. Namun kemudian hal itu bisa kuredam.

Belakangan Boka seperti mengurung sepi di dalam wajahnya. Ia tidak serajin dulu mengumpul tugasnya, berdiskusi dengan teman kelompoknya dan mengambilkan kapur untukku di kantor guru. Boka kini sudah tampak lengang.

Memang, Boka kuakui anak yang rajin, tidak pernah telat mengumpul tugas, apalagi tugas-tugas yang kuberi, semua bernilai bagus. Tidak ada yang mengecewakan.

Entahlah!

Kini Boka lebih sering diam. Jarang menegur, jarang pula menyeringaikan senyum di depan kelas seperti dulu-dulu. Parahnya, Boka sekarang sering sakit-sakitan. Berulang kali kepala asrama putra mengantarnya masuk ke dalam klinik.

“Badannya sering panas dingin gitu, Ustadzah. Setelah sehat, panas tubuhnya kambuh lagi. Begitu seterusnya.” Kata Ustadz Dika.

“Istirahatnya mungkin tidak teratur.” Tebakku gelisah.

“Mungkinlah. Tapi dia kan masih kelas tujuh, menurut saya dia termasuk santri yang tidak terlalu banyak kegiatan. Pun tugas-tugas kelasnya juga tidak terlalu banyak. Hanya saja sesekali hapalan ayat yang sedikit bertambah.”

Esoknya, Boka tidak masuk di kelasku. Santri-santri yang sekamar dengannya membilang kalau ia masuk klinik lagi, pagi tadi seusai sarapan. Tiba-tiba saja Boka kejang dan harus dirawat di klinik asrama putra.

Setelah jam pelajaran usai, aku segera menjenguk Boka. Tubuhnya lusuh di atas kasur. Selang infus melekat pula di kiri tangannya. Napasnya satu-satu. Dokter bilang, panasnya tinggi sekali. Sudah kejang beberapa kali. Tapi setelah kupegang tangannya, Boka seketika tersadar dan membuka sebelah matanya.

“Ustadzah…Usta..” Katanya terputus.

“Sudahlah, bahasa Indonesia saja. Tak apa.” Tuturku memberi celah.

“Ustadzah masih marah pada saya?”

Pertanyaan itu serasa menikam ulu hatiku. Tiba-tiba saja perasaan ngilu mulai pelan-pelan datang mengepung benak dan seisi tubuhku.

Oh, ustadzah macam apa aku? Masih menaruh dendam pada santriku sendiri? Masih mencurigai akan hal-hal yang dianggapnya kepolosan belaka?

“Tidak, saya sudah memaafkanmu, Nak!”

“Lalu, kenapa Ustadzah tidak mau menerima permen saya?”

“Bukan begitu. Ustadzah tidak suka caramu melakukan itu.”

“Tapi ibu saya bilang, semua orang pasti akan suka bila diberi permen. Kata mendiang ibu saya, kalau kita ingin disayangi orang lain maka berilah permen untuknya. Saya kira ustadzah tidak mau menyayangi saya.” Tuturnya dengan nada lirih.

Mata anak lelaki itu mengalirkan sebening air mata yang lembut. Pipinya basah. Kelopak matanya berkerjap-kerjap. Serasa ada yang hilang ketika melihat air mata itu tumpah dari pipinya yang sejuk.

Menyaksikan hal itu, aku makin diredam kepiluan yang menganak sungai dalam-dalam.

“Ustazah sayang pada semua santri di sini. Termasuk kamu, Boka.”

“Benarkah?”

Aku manggut. Kemudian Boka mencoba duduk dalam baringnya yang rapuh. Ia menatapku begitu teduh. Matanya yang berkaca-kaca hendak menampakkan raut gembira.

Aduh, mata itu. Ibarat danau kecil yang menggodaku untuk berenang-renang di dalamnya. Kemudian Boka mengatakan sesuatu dari bibirnya, perkataan yang sulit kuterjemahkan. Seperti senyumnya tempo hari. Rapuh dan lirih.

“Tahukah, Ustadzah? Wajah ibu saya mirip dengan wajah Ustadzah.”

Ya Tuhan, mendengar kata itu, betapa ingin aku memeluk Boka.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *