Cari Panggung

Cari Panggung

Apa hukuman yang pantas bagi mereka yang selalu ingin disanjung dan dipuji?

Bila bicara hukum, utamanya hukum Islam, saya bukanlah orang yang tepat. Tapi jauh sebelum kita bahas perihal hukum-menghukum, mereka yang selalu berharap pujian adalah mereka yang gemar mencari panggung.

Istilah “cari panggung” bisa kita sepadankan dengan makna cari perhatian. Dalam dunia selebritis, cari panggung suatu yang lumrah. Karena panggung adalah dunia para selebritis. Wajar bila kemudian para artis kerap membuat sensasi. Tujuannya sederhana, agar tetap tenar.

Apakah mereka yang kerap cari panggung juga bertujuan ingin dianggap tenar? Bisa jadi. Selain itu, ingin dapat pujian karena telah berjasa, ingin dianggap hebat karena paling berilmu, ingin mendapat simpati dan sanjungan karena telah paling peduli dan perhatian.

Kalau ditarik dalam koridor Islam, cari panggung merupakan sikap riya; berbuat baik dengan niat ingin dipuji manusia. Tidak semata-mata karena Allah. Orientasinya adalah ingin diketahui, dipuji dan dianggap berarti oleh manusia.    

Fenomena cari panggung belakangan ini selalu terjadi. Beberapa komunitas yang saya turut bergabung di dalamnya juga terindikasi retak akibat segilintir orang yang terus berupaya cari panggung di hadapan anggota lain. Tidak hanya komunitas kemasyarakatan, melainkan organisasi keislaman pun turut mengalami hal yang sama.

Perilaku cari panggung yang dilakukan segilintir orang ditandai dengan beberapa ciri. Diantaranya adalah bicara tidak sesuai data, selalu ingin tampil di hadapan publik, terkesan populer, menyalahkan sana-sini tanpa bukti yang jelas, dan merasa diri paling benar.

Mereka yang berulah ‘cari panggung’ biasanya tidak menyadari hal demikian. Namun sungguh disayangkan bila perilaku cari panggung ini memang bagian dari settingan atau memang telah direncanakan lebih dulu. Artinya, perilaku tidak terpuji ini memang sudah mendarah daging. Sudah bagian dari karakter orang tersebut.  

Baca juga: Beginilah Cara yang Tepat Membangun Bisnis di Era Internet Secara Otomatis

 

Tiga Pilar Diri

Apa jadinya jika perilaku cari panggung ini dilakukan oleh para pemangku kebijakan? Apa jadinya jika perilaku ini dilakukan oleh para wakil rakyat di DPR?

Tentu parah sekali, bukan?

Para pemangku kebijakan, anggota wakil rakyat, pegawai pemerintahan yang memang punya tugas mengemban amanah untuk mengelola negara secara baik dan benar malah bertingkah cari panggung semata di depan rakyat.

Mengabdi untuk negeri tidak lagi dihikmati sebagai ibadah. Sebagai perjuangan. Melainkan wujud dari rasa takut kalau-kalau lengser dari jabatan. Sehingga bertindak sekadar ingin mendapat pujian, terkesan hebat dan berjasa saja. Membela keputusan yang salah dan seolah perilaku tersebut adalah benar.

Mereka yang cari panggung tentu akan terus dilingkupi rasa khawatir. Khawatir kalau tidak lagi punya jabatan dan kekuasaan, khawatir kalau tidak lagi punya harta yang melimpah, khawatir kalau lagi tidak dianggap hebat di depan publik, dan khawatir kalau tidak lagi mendapat simpati dari khayalak ramai.

Rasa khawatir ini terus menggelora sehingga membuat si pencari panggung terus mengumbar cara agar tetap bisa mendapatkan apa yang diinginkan.

Orang-orang yang cenderung ‘cari panggung’ biasanya juga tidak memiliki tiga pilar diri; mereka tidak memiliki ilmu yang mumpuni, mereka tidak fokus terhadap kualitas diri karena selalu sibuk menilai orang lain, dan ibadah mereka tidak terjaga dengan baik.

Karena kebodohan dan jauh dari perlindungan Allah Swt —sebagai akibat dari ibadah yang tidak terjaga dan ilmu yang dangkal— maka perilaku ‘cari panggung’, sadar atau tidak, adalah hal yang menjadi prioritas hidup mereka.  Hari-hari mereka selalu sibuk mencari ketenaran dari satu panggung ke panggung berikutnya.

 

Belajar Ikhlas

Lantas, apa kunci yang harus kita miliki agar tidak terjebak pada sikap cari panggung ini?

Tentu saja berbicara dan bertindak semata-mata karena Allah Swt. Ikhlas. Segala urusan akan kelar bila kita berbuat semata karenaNya. Tidak ada embel-embel lain. Allah paling tau apa yang kita butuhkan, apa yang kita harapkan.

Sekalipun kita punya ilmu yang tinggi, ibadah yang terjaga dan selalu sibuk terhadap kualitas diri terkadang bisikan setan agar kita jauh dari sifat ikhlas pun sering datang menghantui.

Berharaplah hanya kepada Allah Swt. Jika ingin dipuji, berharaplah dipuji oleh Allah Swt. Jika ingin mendapatkan simpati maka berharaplah dari Allah Swt saja. Bukankah ketika kita berharap hanya kepada Allah tidak akan pernah mendatangkan rasa kecewa? Lantas, mengapa kita masih bersungguh-sungguh berharap ini-itu dari manusia yang sudah pasti mendatangkan kekecewaan?

Maka inilah tulisan yang sebenarnya hadir sebagai ingatan, utamanya untuk saya, bahwa cari panggung di dunia hanya akan menuai kekecewaan belaka.

Jika ingin kaya maka berdoalah pada Allah Swt dan berusaha sesuai aturanNya. Nanti Allah yang akan memantaskan kita untuk jadi orang yang serba kecukupan. Tugas kita bersabar dan terus berdoa serta berusaha.

Jika pun ingin pintar maka belajar saja dengan niat ingin bermanfaat untuk orang lain karena memberikan manfaat untuk orang lain adalah anjuran baginda Nabi Saw.

 

Sama dengan Riya

Selanjutnya, apa hukuman yang pantas bagi mereka yang selalu ingin disanjung dan dipuji?

Jawaban sederhana saya, hukuman yang akan mereka dapatkan adalah rasa cinta terhadap dunia secara berlebihan sehingga membuat mereka senantiasa dikepung rasa khawatir.

Bila menilik QS. Al-Baqarah: 264 bahwa Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia,”

Artinya jelas bahwa mereka yang bertindak semata-mata karena ingin dipuji manusia maka riya-lah perbuatannya dan tentu saja ini menghapuskan segenap pahala yang ada.

Sedihnya, riya juga termasuk dalam syirik kecil. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah Swt dan Allah Swt akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya dengan shalat itu di hadapan manusia, dan tidaklah mereka zikir kepada Allah kecuali sedikit sekali (QS. An-Nisa: 142).”

Karena dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil). Maka, para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau menjawab, “Ar-riya,“.

Kalau begitu, mari cari panggung di hadapan Allah Swt saja! 

Baca juga: Dapatkan tips atasi writers block selama 30 hari-GRATIS

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *